Dari Merah Banget ke Kuning, Alasan PSBB Kota Cirebon Diperpanjang?

CIREBON – Walikota Cirebon, Drs H Nashrudin Azis SH memilih opsi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) Kota Cirebon diperpanjang. Pilihan ini akan dilaporkan kepada Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, Senin (18/5).

Walikota menyebutkan, perpanjangan PSBB akan disampaikan besok ke Pemprov Jabar. “Polanya penguatan di RT, RW. Pengendalian keluar masuk masyarakat akan diperketat,” kata Azis, usai rapat koordinasi, Minggu (17/5/2020).

“Yang jadi prioritas yakni memperketat check point di perbatasan kota dalam upaya pencegahan orang luar Kota Cirebon masuk. Saat ini Kota Cirebon sudah masuk zona kuning,” tuturnya.

Statemen status Kota Cirebon yang zona merah sebelumnya dilontarkan Kepala Dinas Kesehatan, dr Eddy Sugiarto MKes. Terkait dengan pemberitaan salah satu media yang menyebutkan bahwa Kota Cirebon sudah zona hijau.

“Jadi nol ke satu itu merah. Kita ini tiga asli dari Kota Cirebon. Ini merah, merah banget. Kalau ada warna lebih merah ini merah banget,” tegas Eddy, Selasa (28/4).

Kendati demikian, parameter berbeda disampaikan Gubernur Jawa Barat saat melakukan rapat virtual dengan bupati/walikota se-Jawa Barat, Sabtu sore (16/5). Dia memberikan gambaran dan pedoman dalam menentukan status kondisi kabupaten/kota. Sedikitnya ada lima kategori level yang digambarkan dalam pedoman tersebut, yang nantinya akan dijadikan dasar untuk mengambil tindakan berikutnya terhadap kabupaten/kota.

RAPAT-VIRTUAL-PSBB-JABAR
BAHAS PSBB: Virtual meeting Gubernur Jabar, Ridwan Kamil dengan Bupati/Walikota se-Jabar membahas strategi yang akan diambil kedepan, seiring berakhirnya pemberlakuan masa PSBB 19 mei mendatang. FOTO: AZIS MUHTAROM/RADAR CIREBON

Level 1 kategori rendah, dengan kondisi tidak ditemukan kasus positif. Tindakan yang mesti diambil dari segi pembatasan mobilitas adalah tetap membatasi mobilitas antarprovinsi.

Dari segi aktivitas, bisa menjalankan aktivitas seperti biasa (sekolah, kantor, pasar, toko, industri, pertanian, dll). Dari segi physical/social distancing tetap dianjurkan.

Dari segi tracing dan tes masdal juga tetap dianjurkan. Serta dari segi isolasi dan karantina juga tetap dianjurkan. Pada level ini, bisa dipertimbangkan aktivitas di wilayahnya kembali normal.

Level 2 kategori moderat, dengan kondisi masih ditemukan kasus Covid-19 secara sporadis (bisa kasus impor atau penularan lokal). Tindakan yang mesti diambil dari segi pembatasan mobilitas adalah memaksimalkan pembatasan antarprovinsi dan kabupaten/kota.

Dari segi aktivitas, bisa menjalankan aktivitas seperti biasa (sekolah, kantor, pasar, toko, industri, pertanian, dll). Dari segi physical/social distancing, pembatasan maksimal 50 orang. Dari segi tracing dan tes massal juga tetap dianjurkan. Serta dari segi isolasi dan karantina mesti dilakukan pada orang dengan risiko tinggi (>70 tahun) serta orang sakit. Pada level ini, bisa dipertimbangkan aktivitas di wilayahnya hanya diberlakukan physical distancing.

Level 3 kategori cukup berat, dengan kondisi masih ditemukan kasus Covid-19 pada klaster tunggal. Tindakan yang harus diambil dari segi pembatasan mobilitas adalah tetap memaksimalkan mobilitas antarprovinsi dan kabupaten/kota.

Dari segi aktivitas, tetap membatasi aktivitas seperti pembelajaran, kantor, keagamaan, fasum, sosial budaya, dan pergerakan orang/barang). Dari segi physical/social distancing, pembatasan maksimal 10 orang. Dari segi tracing dan tes massal juga tetap dianjurkan.

Serta dari segi isolasi dan karantina mesti dilakukan pada orang dengan risiko tinggi (>70 tahun) dan orang sakit. Pada level ini, bisa dipertimbangkan aktivitas di wilayahnya diberlakukan PSBB parsial.

Level 4 kategori berat, dengan kondisi masih ditemukan kasus Covid-19 pada satu atau lebih klaster, dengan peningkatan kasus signifikan. Tindakan yang harus diambil dari segi pembatasan mobilitas adalah membatasi moblitias dalam klaster.

Dari segi aktivitas, ditutup/penutupan aktivitas, kecuali kesehatan, bahan pangan, energi, komunikasi, keuangan, logistik, perhotelan, konstruksi, industri, dan pelayanan dasar.

Dari segi physical/social distancing pembatasan diberlakukan pelarangan/dilarang. Dari segi tracing dan tes massal juga tetap dianjurkan. Serta dari segi isolasi dan karantina mesti dilakukan di tempat pelayanan rumah sakit. Pada level ini, bisa dipertimbangkan aktivitas di wilayahnya diberlakukan PSBB penuh.

Level 5 kategori kritis, dengan kondisi masih ditemukan kasus Covid-19 dengan penularan di komunitas. Tindakan yang harus diambil dari segi pembatasan mobilitas adalah tinggal di rumah.

Dari segi aktivitas, ditutup/penutupan aktivitas, kecuali kedehatan, bahan pangan, energi, komunikasi, keuangan, logistik, perhotelan, konstruksi, industri, dan pelayanan dasar.

Dari segi physical/social distancing pembatasan diberlakukan pelarangan/dilarang. Dari segi tracing dan tes massal juga tetap dianjurkan. Serta dari segi isolasi dan karantina mesti dilakukan di tempat pelayanan rumah sakit. Pada level ini, bisa dipertimbangkan aktivitas di wilayahnya diberlakukan lockdown.

Gambaran yang dimiiki Pemprov Jabar sendiri terhadap wilayah Kota Cirebon berada di level 3. Sedangkan, daerah lain di sekitarnya yakni Kabupaten Cirebon level 4, Kuningan level 3, Indramayu level 4, dan Majalengka level 4.

Meski demikian, gubernur memberikan kesempatan kepada para kepala daerah untuk mengkaji sendiri konisi gambaran di wilayahnya, berdasarkan data-data perkembangan kasus Covid-19 yang dimiliki oleh setiap daerah dan kondisi riil di lapangan.

Sehingga, para kepala daerah, diberikan waktu hingga senin 18 Mei untuk melaporkan hasil kajianya dan menentukan status level daerahnya masing-masing ke provinsi, untuk diusulkan tindakan selanjutnya. (rdh/azs)

Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More