Kota Cirebon Cukup Berat, Kabupaten Cirebon Berat

Gubernur Beberkan Pedoman Lima Level Status

CIREBON – Pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) pada 15 Kabupaten/Kota di Jawa Barat, segera berakhir 19 Mei. Gubernur Jawa Barat M Ridwan Kamil meminta kepada para kepala daerah untuk menganalisa dan menginventarisasi ulang kondisi di daerah masing-masing untuk menentukan status PSBB atau tidak tahap berikutnya.

Gubernur Jawa Barat saat melakukan rapat virtual dengan bupati/walikota se-Jawa Barat, Sabtu sore (16/5) memberikan gambaran dan pedoman dalam menentukan status kondisi kabupaten/kota. Sedikitnya ada lima kategori level yang digambarkan dalam pedoman tersebut, yang nantinya akan dijadikan dasar untuk mengambil tindakan berikutnya terhadap kabupaten/kota.

Level 1 kategori rendah, dengan kondisi tidak ditemukan kasus positif. Tindakan yang mesti diambil dari segi pembatasan mobilitas adalah tetap membatasi mobilitas antarprovinsi.

Dari segi aktivitas, bisa menjalankan aktivitas seperti biasa (sekolah, kantor, pasar, toko, industri, pertanian, dll). Dari segi physical/social distancing tetap dianjurkan.

Dari segi tracing dan tes masdal juga tetap dianjurkan. Serta dari segi isolasi dan karantina juga tetap dianjurkan. Pada level ini, bisa dipertimbangkan aktivitas di wilayahnya kembali normal.

Level 2 kategori moderat, dengan kondisi masih ditemukan kasus Covid-19 secara sporadis (bisa kasus impor atau penularan lokal). Tindakan yang mesti diambil dari segi pembatasan mobilitas adalah memaksimalkan pembatasan antarprovinsi dan kabupaten/kota.

Dari segi aktivitas, bisa menjalankan aktivitas seperti biasa (sekolah, kantor, pasar, toko, industri, pertanian, dll). Dari segi physical/social distancing, pembatasan maksimal 50 orang. Dari segi tracing dan tes massal juga tetap dianjurkan. Serta dari segi isolasi dan karantina mesti dilakukan pada orang dengan risiko tinggi (>70 tahun) serta orang sakit. Pada level ini, bisa dipertimbangkan aktivitas di wilayahnya hanya diberlakukan physical distancing.

Level 3 kategori cukup berat, dengan kondisi masih ditemukan kasus Covid-19 pada klaster tunggal. Tindakan yang harus diambil dari segi pembatasan mobilitas adalah tetap memaksimalkan mobilitas antarprovinsi dan kabupaten/kota.

Dari segi aktivitas, tetap membatasi aktivitas seperti pembelajaran, kantor, keagamaan, fasum, sosial budaya, dan pergerakan orang/barang). Dari segi physical/social distancing, pembatasan maksimal 10 orang. Dari segi tracing dan tes massal juga tetap dianjurkan.

Serta dari segi isolasi dan karantina mesti dilakukan pada orang dengan risiko tinggi (>70 tahun) dan orang sakit. Pada level ini, bisa dipertimbangkan aktivitas di wilayahnya diberlakukan PSBB parsial.

Level 4 kategori berat, dengan kondisi masih ditemukan kasus Covid-19 pada satu atau lebih klaster, dengan peningkatan kasus signifikan. Tindakan yang harus diambil dari segi pembatasan mobilitas adalah membatasi moblitias dalam klaster.

Dari segi aktivitas, ditutup/penutupan aktivitas, kecuali kesehatan, bahan pangan, energi, komunikasi, keuangan, logistik, perhotelan, konstruksi, industri, dan pelayanan dasar.

Dari segi physical/social distancing pembatasan diberlakukan pelarangan/dilarang. Dari segi tracing dan tes massal juga tetap dianjurkan. Serta dari segi isolasi dan karantina mesti dilakukan di tempat pelayanan rumah sakit. Pada level ini, bisa dipertimbangkan aktivitas di wilayahnya diberlakukan PSBB penuh.

Level 5 kategori kritis, dengan kondisi masih ditemukan kasus Covid-19 dengan penularan di komunitas. Tindakan yang harus diambil dari segi pembatasan mobilitas adalah tinggal di rumah.

Dari segi aktivitas, ditutup/penutupan aktivitas, kecuali kedehatan, bahan pangan, energi, komunikasi, keuangan, logistik, perhotelan, konstruksi, industri, dan pelayanan dasar.

Dari segi physical/social distancing pembatasan diberlakukan pelarangan/dilarang. Dari segi tracing dan tes massal juga tetap dianjurkan. Serta dari segi isolasi dan karantina mesti dilakukan di tempat pelayanan rumah sakit. Pada level ini, bisa dipertimbangkan aktivitas di wilayahnya diberlakukan lockdown.

Gambaran yang dimiiki Pemprov Jabar sendiri terhadap wilayah Kota Cirebon berada di level 3. Sedangkan, daerah lain di sekitarnya yakni Kabupaten Cirebon level 4, Kuningan level 3, Indramayu level 4, dan Majalengka level 4.

Meski demikian, gubernur memberikan kesempatan kepada para kepala daerah untuk mengkaji sendiri konisi gambaran di wilayahnya, berdasarkan data-data perkembangan kasus Covid-19 yang dimiliki oleh setiap daerah dan kondisi riil di lapangan.

Sehingga, para kepala daerah, diberikan waktu hingga senin 18 Mei untuk melaporkan hasil kajianya dan menentukan status level daerahnya masing-masing ke provinsi, untuk diusulkan tindakan selanjutnya.

Sementara itu, Walikota Cirebon Nashrudin Azis menegaskan, berdasarkan hasil evaluasi yang disampaikan oleh gubernur tentang kondisi PSBB di Provinsi Jawa Barat, Kota Cirebon masuk dalam level 3. Artinya level 3 ini dengan kategori masih cukup berat.

Azis mengatakan yang menjadi permasalahan adalah daerah daerah-daerah yang berbatasan dengan Kota Cirebon itu di level 4. Sehingga hal ini menyulitkan Kota Cirebon untuk kemudian bisa mengatur frekuensi masyarakat di luar yang masuk maupun warga Kota Cirebon yang keluar.

“Nah, karena kondisinya seperti itu. Oleh karenanya kami akan lebih cermat lagi mengatur siasat agar bagaimana caranya masyarakat Kota Cirebon tetap terjaga dari penyebaran Covid-19. Tapi tetap perekonomian bisa tetap berjalan. Apakah itu dengan lebih mengetatkan keluar masuknya orang di perbatasan, serta sedikit melonggarkan aktvfitas di dalam kota,” jelasnya.

Menurut Azis, gambaran awal Kota Cirebon menempati level 3, pada prinsipnya sudah boleh melakukan kegiatan. Namun, tetap harus menjaga jarak dan menjaga atau melaksanakan social distancing.

Untuk memutuskan langkah apa yang akan dilaporkan ke pemprov, Azis mengaku akan menggelar rapat dengan lintas sektoral Minggu (17/5) ini.

“Insya Allah besok (hari ini, red) kami akan dibicarakan lebih lanjut untuk mengatur langkah berikutnya sehubungan akan berakhirnya masa PSBB yaitu pada tanggal 19. (sikapnya seperti apa) tergantung besok (hari ini, red) kita akan bicarakan dengan dinas-dinas terkait dan dengan intansi lain yang tergabung dalam Gugus Tugas Covid-19,” pungkasnya. (azs)

Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More